Dari dekat, pada pukul dua pagi, terlihat seperti seseorang yang terengah-engah mencari udara yang tak ada, menangisi sebuah tempat yang takkan pernah diakui keberadaannya oleh catatan resmi mana pun, karena satu-satunya bukti bahwa tempat itu pernah ada hanyalah sepasang sistem saraf yang telah menghafal satu sama lain.
Aku melihat temanku melipat dirinya sendiri, layaknya kertas yang terlipat berkali-kali, untuk menjadi sesuatu yang lebih kecil dari aslinya. Dan aku berpikir. Apa artinya memiliki sebuah hak yang baru aktif ketika orang lain setuju kau pantas menggunakannya? Apakah itu masih sebuah hak, atau sekadar izin, yang bisa ditarik ulur sesuka hati oleh siapa pun yang saat ini memegang kendali lebih besar atas kepatuhanmu?
Aku menyaksikan temanku hidup di dalam kontradiksi ini, diberi tahu, di satu sisi, bahwa hidupnya adalah miliknya, lalu ditunjukkan, di sisi lain, sampai batas mana kepemilikan itu berlaku sebelum akhirnya berbenturan dengan tuntutan yang lebih kuat, tuntutan yang lebih tua, tuntutan dengan lebih banyak orang berdiri di belakangnya, mengangguk, seolah-olah itu semua adalah kebenaran.
Ada kekejaman yang tersimpan dalam budaya-budaya yang di ruang-ruang lain terasa begitu hangat. Kekejaman karena diberi makan berlimpah sementara rasa laparmu yang sebenarnya tak pernah diberi nama. Mungkin inilah warisan sejati dari tumbuh besar dalam sebuah masyarakat kolektif. Kau belajar sejak dini bahwa diri ini bukanlah sebuah kepemilikan tetap, melainkan sebuah negosiasi, yang selalu terbuka untuk dinegosiasikan ulang kapan saja.
Kolektivisme bukanlah kejahatan. Kejahatan butuh penjahat. Ini adalah sesuatu yang mengudara, diwariskan, disepakati oleh semua orang dan tidak diciptakan oleh siapa pun, dan justru itulah alasannya tak ada yang bisa diadili untuk ini, dan alasan mengapa hujan terus turun di ruang-ruang privat yang sama dekade demi dekade.
Dan begitu kau mempelajarinya, kau akan membawanya selamanya. Rasa curiga yang pelan dan permanen bahwa keyakinanmu sendiri tentang hidupmu belum cukup menjadi bukti bahwa hidup ini benar-benar milikmu.
***
Ketika aku kecil, bibiku memelihara seekor ikan dalam mangkuk yang begitu bening hingga bisa dilihat dari segala sudut, tak ada tanaman untuk bersembunyi, karena ikan yang bersembunyi, katanya, mungkin adalah ikan yang sakit, dan ikan yang sakit jika dibiarkan tak terlihat bisa mati tanpa ada yang tahu siapa yang salah.
Ia sungguh menyayangi ikan itu, mengganti airnya tepat waktu, memberinya makan sebelum ia memberi makan dirinya sendiri. Kepedulian itu nyata. Itulah bagian yang paling lama untuk diurai, bahwa mangkuk kaca dan cinta itu datang dari orang yang sama.
Aku mengamati ikan itu selama berbulan-bulan. Ia tak pernah berenang berputar-putar seperti yang tertulis di buku. Ia berenang membentuk pola yang lebih mirip tanda tanya, berhenti di empat titik yang sama di sepanjang kaca, di mana dari kursi-kursi tertentu di ruangan itu, selalu ada seseorang yang duduk. Dulu, aku pikir ia sedang beristirahat di sana.
Bertahun-tahun kemudian aku bertanya mengapa mangkuk itu tak punya tanaman, tak ada batu, tak ada rumah keramik kecil untuk tempat menghilang. Ia menjawab, “kalau dia bersembunyi, bagaimana aku tahu dia masih hidup di dalam sana?”
Waktu itu aku belum punya kata-kata untuk membalasnya, bahwa sebuah kehidupan yang terus-menerus diperiksa tanda-tanda kehidupannya, pada setiap jam di sela-sela pemeriksaan itu, adalah kehidupan yang sebenarnya tidak sedang dijalani oleh siapa pun. Bahwa ia telah keliru menyamakan visibilitas dengan vitalitas, sama seperti kau keliru menyamakan jendela yang menyala terang dengan rumah yang hangat.
Aku lebih sering memikirkan ikan itu sekarang daripada saat aku masih kecil. Aku memikirkan berapa lama seekor hewan bisa mempertahankan sebuah bentuk sebelum bentuk itu berhenti menjadi sebuah pertunjukan dan semata-mata menjadi hewan itu sendiri. Aku memikirkan semua orang yang kucintai yang belajar, seperti ikan itu belajar, untuk beristirahat di empat titik yang terlihat di sebuah ruangan dan menyebutnya berenang, untuk menyembunyikan seluruh lautan pribadi mereka dan melipatnya menjadi sangat kecil di balik raut wajah yang dibangun agar terlihat tidak tabu.
***
Aku terus membayangkan sebuah aula besar yang bercahaya di suatu tempat dengan lantai marmer, langit-langit tinggi, sebuah api abadi di mana setiap hak asasi manusia yang pernah ditulis disimpan di balik kaca, diterjemahkan ke dalam empat puluh bahasa seremonial, dijaga, dibersihkan debunya, dipuja. Dan membayangkan di dalam sebuah rumah yang biasa, di mana tak satupun dari terjemahan itu diucapkan, di mana satu-satunya bahasa yang berlaku adalah apa kata orang nanti.
Aku mulai percaya bahwa martabat adalah sesuatu yang harus dipertahankan, secara diam-diam, di ruang-ruang di mana tak ada institusi yang akan pernah mengirimkan bantuan. Hukum mengatakan kau berdaulat. Masyarakat bertanya berdaulat atas apa, tepatnya? Bukan atas kamar ini. Bukan atas nama ini. Bukan pada upacara tahun ini. Dan hukum, karena ia sekadar kertas, tidak akan datang ke rumah untuk mendebatnya.
Kurasa sebuah hak hanyalah senyata orang terakhir yang bersedia berdarah untuknya di ruangan tanpa kamera. Hak-hak kita ditulis untuk siang hari, untuk parlemen, untuk mimbar pidato. Tapi ruang tempat hak-hak itu benar-benar diuji selalu pada malam hari, selalu sempit, selalu hanya satu orang melawan semua orang yang mencintai mereka.
Terkadang aku bertanya-tanya apakah seluruh tatanan ini bertahan pada sebuah kesepakatan bersama yang tak terucap untuk tidak menanyakan pertanyaan kedua. Pertanyaan pertama selalu diizinkan. “Apakah kau hadir? apakah kau menunduk hormat? apakah kau memenuhi tata kramanya?” Pertanyaan kedualah yang berbahaya. “Apakah ini merenggut sesuatu darimu yang tak bisa kau dapatkan kembali?” Tak ada volume suara yang pantas untuk pertanyaan itu, maka ia tak pernah ditanyakan, dan pertanyaan yang tak ditanyakan itu sekadar berpindah ke dalam dada, ke dalam jam-jam larut malam, ke dalam birokrasi yang menganggapnya tak relevan.
Kita punya kata untuk sekadar hadir. Kita tidak punya kata yang sama kuatnya untuk benar-benar memaknainya. Hadir. Itu sudah cukup. Tubuh yang duduk di kursi sudah cukup. Pakaian yang pantas sudah cukup. Tak ada yang memeriksa apakah senyum itu sungguh sebuah senyuman.
Aku mulai menyadari betapa negeri ini berjalan dengan bertumpu pada saksi, bukan pada kebenaran. Sebuah tindakan menjadi nyata bukan ketika ia jujur, tapi ketika cukup banyak orang melihatnya terjadi. Cinta menjadi sah begitu ia diakui oleh upacara yang tepat. Dan apa pun yang terjadi tanpa penonton, sebuah tata bahasa pribadi yang dibangun dari ketiadaan, sama sekali tidak dihitung, sama seperti pohon yang tumbang di hutan tanpa pendengar yang seolah tak menghasilkan suara, setidaknya menurut orang-orang yang tak pernah berada di hutan itu.
Kita mewarisi kebijaksanaan tentang harmoni. Bahwa diri ini tak terpisahkan dari keseluruhan, bahwa makna diciptakan bersama, bukan sendirian. Pada asalnya, ini adalah filosofi yang mulia. Namun di tengah jalan, kita berhenti bertanya untuk apa harmoni itu diciptakan, dan mulai memuja bunyinya saja. Harmoni menjadi sebuah nada yang ditahan begitu lama hingga tak ada lagi yang ingat dari kunci mana ia bermula, atau apakah ia sebenarnya pernah menyelesaikan apa-apa.
***
Dan di suatu tempat, temanku sedang belajar untuk hidup terlipat, seperti sebuah negara yang mengajari rakyatnya untuk hidup ikhlas. Rapi, sunyi, tak bisa dibedakan dari kertas yang tak pernah menjadi apa-apa selain kertas. Sementara aku menjadi satu-satunya, di beberapa malam, yang masih bersikeras, menyuarakannya keras-keras, tak tertuju pada pejabat mana pun. Kertas itu pernah melayang. Aku melihatnya melayang. Sebanyak apa pun ia dilipat, hal itu takkan mengubah kebenarannya.
Aku tak punya filosofi yang cukup besar untuk menampung apa yang terjadi pada temanku. Aku hanya punya satu fakta kecil bahwa hatinya hancur. Seseorang harus belajar melipat dirinya menjadi sangat kecil agar muat dalam harapan masyarakat, meskipun proses melipat diri itu secara perlahan menghancurkan hatinya.
Mereka menyebutnya melanjutkan hidup. Mereka menyebutnya, dengan murah hati, sebuah kehidupan yang kembali ke bentuk semestinya, seolah-olah bentuk yang ia miliki sebelumnya, yang dibangun perlahan selama bertahun-tahun, yang membuatnya tetap mengapung melewati setiap malam, sejak awal memang dianggap tidak pantas.